Yang terkasih, Ibu Pertiwi
di Indonesia, Asia Tenggara, Asia
Bagaimana kabarmu, Ibu? Baik-baik sajakah dirimu saat ini? Tiada hal yang patut aku pinta selain mengharapkan dirimu sejahtera selalu. Aku menulis surat ini tak lain hanya ingin bercerita tentang apa yang selama ini anak-anakmu rasakan. Mungkin ceritaku tak lebih dari sekadar omongan anak kecil yang begitu merindukan kasih sayang seorang ibu. Umpamanya naungan hangat ketika anak-anakmu menangis karena tertampar oleh tangan besi yang diayunkan seorang saudara. Tahulah dirimu bahwa itu memang kewajibanmu. Meski begitu, kami sepatutnya paham terlebih dahulu keadaan jiwa dan nadimu. Beginilah, Bu, rengekan seorang anak.
Tak lama lagi, bahkan hanya menghitung hari, menghitung fase bulan yang kiranya tiga kali lagi, dirimu jatuh di usia yang ke delapan puluh tahun. Kalau dilihat dari usia manusia, sudah begini tua ternyata dirimu, Bu. Sungguh berbeda dari manusia, usiamu yang semakin tua itu sudah semestinya membuat badan dan jiwamu semakin kuat. Tetapi, takdir merobek hatimu seperti taring Harimau Sumatra yang mencabik-cabik seekor babi hutan yang dengan tenangnya sedang mencari umbi-umbian. Lalu jirahmu yang setebal kulit Badak Jawa tertembus oleh peluru yang mengancam keselamatan akal sehatmu. Ironis, sungguh sangat ironis. Dengan demikian, bersedihlah kami, anak-anakmu yang masih sehat akalnya.
Apalah daya diri kami ini melihat engkau semakin hari semakin terbuai dalam lara yang diperbuat oleh akal kejam dari sebagian anak-anakmu sendiri. Dengan mata yang menyaksikan itu semua, pantaskah kami mendambakan buaian lembutmu itu, yang mampu membuat diri ini merasa sejahtera, adil, dan makmur? Sementara tak semua anakmu peduli dengan kesedihanmu. Ketika ada yang acuh, mereka sukar sekali menemukan saudara yang mau berdiri sebaris dan selangkah demi membuang air matamu. Tak mungkinlah kau sangka ternyata banyak yang abai denganmu, Ibu. Padahal, kami semua satu saudara, satu rumah, satu sanubari. Segan rasanya hati ini meminta kasih sayang yang begitu besar padamu, wahai Ibu Pertiwi yang terkasih.
Belakangan ini saudara-saudara kami yang sekarang menjadi pembesar, pemangku kekuasaan, apa pun itu sebutannya, acap kali membuat risau kami yang mereka sebut sebagai rakyat. Mulai dari merevisi aturan sekehendak hatinya tanpa melibatkan rakyat, menaikkan persentase pemalakan uang rakyat yang entah di mana sekarang uang itu hidup, pemangkasan anggaran besar-besaran di saat mereka masih dengan tenang melahap gaji yang begitu besar, sektor pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi paling kokoh tak kunjung diberi perhatian lebih, korupsi tahun-tahun belakangan ini yang totalnya kalau ditumpuk bisa sampai ke ISS (International Space Station) yang sedang mengorbit, janji lapangan pekerjaan yang belum kelihatan batang hidungnya, dan masih luar biasa banyak lagi yang tak bisa aku sebutkan.
Kami, rakyat biasa ini, telah lama lunglai melihat ketidakpahaman para pembesar beserta anak buahnya dengan apa yang mereka kerjakan. Keputusan yang diambil tak jarang hanya menguntungkan pihak pembesar dan merugikan rakyat. Pelayanan yang diberi tak jarang pula malah membuat sakit hati rakyat. Tidak optimalnya para pembesar itu bekerja bukanlah menjadi rahasia lagi. Banyak faktor yang menyebabkan budaya ini tetap lestari. Pemilihan para pembesar bukan dilandaskan dari kepiawaian dan prestasinya, melainkan disokong oleh uang yang begitu banyak dilontarkan seperti seekor Merak Hijau jantan yang membentangkan bulu indahnya demi memikat si betina. Tidak sampai di situ saja, seleksi aparatur pemerintahan juga banyak kelemahannya. Proses seleksi terasa seperti menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup dijawab dengan menghafal. Cukuplah dia hafalkan semua materi itu demi mengejar skor tinggi dan diangkatlah dia menjadi aparatur. Sangat disayangkan ternyata para pembesar lupa akan satu hal penting dalam mencari anak buahnya, yaitu nurani. Sampai hatikah negara tak mau menguji nurani mereka? Berapa persen dari mereka yang mengerti soal bangsa sendiri dan memahami hati rakyat? Padahal mereka itulah yang akan bekerja sampai mati mengabdi kepada rakyat. Ketika yang terpilih hanya sekadar pandai dan tidak diiringi dengan nurani, berputarlah secara abadi budaya ini, budaya yang mana pembesar dan anak buahnya tidak mampu berempati terhadap rakyat.
Ketika rakyat menyerahkan suaranya ke sebuah dewan perwakilan dan menggantungkan harapan ke sebuah pemerintahan, ketahuilah bahwa tiada hal yang mereka harapkan selain keadilan. Namun, sudahkah keadilan itu ditegakkan? Aku lihat masih banyak kecacatan hukum yang kita miliki, Bu. Aku pandang masih banyak anak-anak yang kelaparan, Bu. Aku amati masih banyak keluarga yang mati-matian memberi penghidupan kepada keluarganya, Bu. Dan aku amat sayangkan semua ketidakadilan itu hanya bisa membisu, tak bisa berteriak lantang. Wajar kiranya banyak anak-anakmu ini sering bersedih, kecewa, semata-mata untuk menuntut hak. Tak tahulah kami apa yang para pembesar sekarang ini pikirkan. Adakah mereka pernah memikirkan kami? Rakyat biasa ini tak bakal sanggup menjawab.
Barangkali ada dua hal yang membuat para pembesar—atau mungkin beserta anak buahnya—bertindak seperti itu. Kekuasaan dan kemewahan. Dengan kekuasaan yang tinggi itu, mereka merasa seolah semua tanah negeri ini milik mereka. Mereka seperti menginginkan rakyat harus tunduk kepada kekuasaan mereka dan apabila ada yang memperjuangkan dan melawan ketidakwarasan itu, terbungkamlah akhirnya. Sudah banyak contoh kisah yang anak-anakmu saksikan. Gaji yang entah berapa puluh sampai ratus juta itu terasa tidak cukup untuk mereka. Padahal, jika mereka bijak dan menerima gaya hidup yang sederhana, boleh jadi rakyat bisa ikut berbahagia. Akan tetapi, modernisasi yang semakin hari kian memuncak membangunkan rasa ketamakan itu. Semua barang mewah mereka beli tanpa ampun. Mobil yang sebetulnya masih bagus dan bisa dipakai langsung diabaikan demi membeli mobil baru yang lebih mahal. Smartphone yang baru digunakan beberapa bulan langsung dilemparkan ke kasur demi menggenggam smartphone baru yang jauh lebih bergengsi. Fenomena ini tidak hanya bisa disaksikan di kalangan pembesar, rakyat biasa pun mulai berbondong-bondong mengejar hal yang sama. Kini kebanyakan orang memandang gaya hidup modern adalah gaya hidup yang mewah dan boros, tanpa memedulikan apa saja dampak konsumerisme yang kian tinggi itu terhadap kesejahteraan masyarakat.
Tidak berhenti pada manusianya saja, Bu, bahkan pembangunan pun juga tidak tercium bau keadilan. Fasilitas yang megah, gedung yang berlimpah, aksesibilitas yang mudah hanya bisa dinikmati oleh masyarakat perkotaan, itu pun juga kota besar. Cobalah lihat daerah pedesaan, Bu. Banyak sekali bangunan-bangunan yang semestinya diperbaiki, dibikin jadi lebih unggul, malah tidak pernah tersentuh. Bangunan-bangunan yang semestinya perlu dibangun, malah tidak dipikirkan. Lihatlah dan bandingkan antara gedung sekolah di perkotaan dan bangunan sekolah di pedesaan. Bandingkan pula fasilitas rumah sakit di perkotaan dan di pedesaan. Begitu jauh bukan perbandingannya, wahai Ibu yang terkasih? Dalam skala yang lebih besar lagi, kemajuan antar pulau pun terlihat sungguh kontras. Pulau Jawa yang semakin tinggi mengudara meninggalkan pulau yang lain memperlihatkan betapa berlaku adilnya para pembesar selama hampir delapan puluh tahun ini. Memang sedari lama Pulau Jawa sudah menjadi pusat pemerintahan kolonial, sehingga banyak bangunan yang sudah berdiri lebih dulu sebelum kemerdekaan. Tapi, hal itu tidak serta merta dijadikan alasan pembangunan di pulau lain diabaikan. Justru para pembesar sepatutnya berpikir bagaimana menjaga keseimbangan dan keadilan pembangunan.
Sewaktu-waktu aku berpikir, apakah aku sendiri sudah mengenal bangsaku? Semakin aku membaca tentangnya, semakin aku merasa ternyata begitu banyak hal yang tidak aku ketahui perihal tubuh bangsa sendiri. Sejarah dan semangat juang yang dipikul oleh para pendahulu sudah sewajarnya dipelajari oleh anak-anakmu saat ini. Ketika ada di antara mereka yang melupakan sejarah bangsa sendiri, maka bersedih dan menangislah dirimu, Ibu. Tak urung rasa iba menendang hatimu karena perlahan-lahan dilupakan oleh anak sendiri. Sementara, para pemuda angkatan awal abad ke-20 sampai bangsa ini bebas dari kolonial telah berjuang habis-habisan mengokohkan pemikiran dan jiwa kemerdekaan pada tubuh bangsa ini, pada tubuhmu, wahai Ibu Pertiwi yang terkasih.
Sedikit kita berkilas balik, Bu. Mereka pertama kali dipicu oleh pidato dari seorang alumni STOVIA yang bernama dr. Wahidin Soedirohoesodo kepada para pelajar STOVIA saat itu. Selain beliau, terdapat juga sosok-sosok wanita pelopor yang menginspirasi, seperti Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika. Semenjak dari situ, gagasan mereka tentang memajukan pendidikan dan martabat bangsa melahirkan para pemuda dan pemudi yang tergerak hatinya. Mulai dari para pemuda, seperti Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir, hingga pemudi seperti Emma Poeradiredja, Siti Sundari, Rasuna Said, dan sungguh masih berlimpah lagi nama-nama yang tidak bisa aku tuliskan di sini satu per satu. Memang banyak di antara mereka yang aku sebutkan itu tidak satu angkatan, tetapi tongkat estafet perjuangan tetap dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Lihatlah, Bu, anak-anakmu dulu, pemuda-pemudi saat itu sangat gagah berani memperjuangkan buah pemikirannya, tak takut dengan penindasan kolonial, demi progresivitas bangsanya. Mereka melawan karena menuntut keadilan. Mereka bersuara karena ditindas. Dan mereka bersatu untuk bebas.
Jika surat ini sampai pula di tangan saudara-saudaraku, sesama anak Ibu Pertiwi, cobalah kita renungkan kembali apakah pemuda-pemudi saat ini, kita, sudah berkontribusi terhadap kemajuan bangsa? Sudahkah kita bertindak memperjuangkan keadilan? Sudahkah kita mempelajari kembali tentang sejarah dan sifat bangsa sendiri? Aku sangat menyayangkan diriku ini karena belum memiliki kontribusi apa pun yang bisa dibanggakan. Kini sudah saatnya kita mulai belajar, mengenali, dan memikirkan saudara-saudara sebangsa beserta keadilannya—setidak-tidaknya mulai dari dalam pikiran. Ditambah lagi dengan ilmu yang sudah dan akan kita dapatkan bisa dipakai dan disebarluaskan ke masyarakat. Tak perlu menunggu para pembesar dan anak buahnya bergerak—karena sama saja seperti menunggu orangutan bertelur—kita, rakyat biasa bisa langsung memulai sendiri. Inilah mungkin yang akan menjadi langkah awal bagi kita untuk memajukan negeri ini. Seperti kata Jean Marais kepada Minke di roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”
Terlihat suratku ini sudah terlalu panjang dan jika tidak disudahi entah bakal ngalor-ngidul kemana ocehannya. Sudah aku singgung di atas tadi bahwa tiada hal yang kami harapkan selain ragamu, raut wajahmu, jiwamu, nadimu, sanubarimu, dan kasihmu yang abadi mengiringi langkah kami. Lara hati yang tertancap di pundakmu seakan membisikkan bahwa dirimu begitu sedih melihat tingkah laku sebagian anak-anakmu. Namun, ketahuilah, Ibu, masih banyak dan melimpah ruah anak-anakmu yang peduli dengan bisikan batinmu itu. Masih banyak di antara mereka yang terpelajar punya keberanian untuk mendorong dan mengoptimalkan potensi yang terdapat dalam dirimu, wahai Ibu Pertiwi. Akhir kata, di usiamu yang ke delapan puluh tahun nanti, rangkullah kami sejenak dan berikan kami kekuatan untuk menyambung nyawamu sampai akhir menutup mata.
Jakarta, 08 Agustus 2025
Anakmu
Rakyat Indonesia