Pelesiran Pertama Seorang Diri

Sebetulnya aku sama sekali belum punya rencana untuk berpelesiran, setidaknya dalam waktu dekat. Bukannya tidak berminat, melainkan perlu dipikirkan dengan matang terlebih dahulu. Barangkali pula terdapat keraguan yang bersarang di benak. Maklum karena memang aku jarang pelesiran, bahkan di dalam kota sekalipun. Akan tetapi, memang sempat terpikir beberapa kali untuk melakukannya seorang diri. Selama ini… Lanjutkan membaca Pelesiran Pertama Seorang Diri

Diterbitkan di Esai

Pertunjukan Masyarakat Hijau-Kuning

Kiranya hampir satu tahun yang lalu, sekonyong-konyong muncullah sebuah video pendek dari kanal The First Take di timeline YouTube milikku. Video itu awalnya menampilkan seorang perempuan dengan jaket kulit berwarna hitam, merentangkan tangan dan bernyanyi dengan penuh energi. Sorot kamera lalu dilanjutkan ke arah kibordis, basis, hingga gitaris yang setelannya hampir sama, hanya saja sang… Lanjutkan membaca Pertunjukan Masyarakat Hijau-Kuning

Diterbitkan di Esai

Kembar

Sebuah kilau kecil yang berseri gemar sekali menemani kembarannya. Tak peduli di waktu mentari terbangun ataupun kembali tidur, dia tetap hadir mengawasi, tak ubahnya saudara kembar yang sanubarinya tertaut sampai kapan pun. Enggan kalah terang ketika berdampingan dengan sinar mentari yang menembus selimut kembarannya, seolah-olah hanya dialah yang boleh menyentuh pipi itu. Berbanding terbalik dengan… Lanjutkan membaca Kembar

Topeng

Sudah berpuluh-puluh tahun negara ini hidup dalam kedamaian. Kedamaian yang nyata, abadi, dan tak terpatahkan. Jauh di atas sana, sinar matahari turut andil menjadi saksi dalam melihat khalayak ramai hidup tanpa konfrontasi. Menjelang pagi semua orang sibuk bersiap keluar dari kandang masing-masing demi berangkat ke sangkar raja yang memberi upah secukupnya, upah yang dinilai wajar… Lanjutkan membaca Topeng

Rengekan Kecil untuk Ibu Pertiwi

Yang terkasih, Ibu Pertiwidi Indonesia, Asia Tenggara, Asia Bagaimana kabarmu, Ibu? Baik-baik sajakah dirimu saat ini? Tiada hal yang patut aku pinta selain mengharapkan dirimu sejahtera selalu. Aku menulis surat ini tak lain hanya ingin bercerita tentang apa yang selama ini anak-anakmu rasakan. Mungkin ceritaku tak lebih dari sekadar omongan anak kecil yang begitu merindukan… Lanjutkan membaca Rengekan Kecil untuk Ibu Pertiwi

Diterbitkan di Esai

Ketika Bumi Rafflesia dibumihanguskan demi Membumikan Bumi Merah Putih

Tanah yang menjadi tempat bertapak, berkehidupan, dan bermasyarakat selama roh masih terkandung dalam tubuh seorang insan tak urung memiliki jati diri dan nyawa tersendiri. Jiwa yang dimuatnya tertaut abadi di sana mulailah dari lahir, tumbuh sebagai remaja awam, berdiri sebagai dewasa tangguh, hingga kembali lagi ke pemunculan asalnya. Apa jadinya ketika jati diri tanah itu… Lanjutkan membaca Ketika Bumi Rafflesia dibumihanguskan demi Membumikan Bumi Merah Putih

Diterbitkan di Esai

Raupan Energi dari Panggung Sang Melodi

Bulan sabit kelima setahun yang lalu merupakan bulan yang penuh harap bagi semua penggemar musik dan melodi dari sebuah grup yang digagas dua puluh lima tahun silam di Huntington Beach, California. Lima orang yang pandai menyalurkan nada harmonis berpadu dengan energi yang keras sudah dinanti-nanti oleh berpuluh ribu raga. Tak lama lagi, grup itu akan… Lanjutkan membaca Raupan Energi dari Panggung Sang Melodi

Diterbitkan di Esai

Melambat: Kemewahan di Derasnya Arus Kehidupan

Dulu aku berpikir bahwa kecepatan adalah apa yang dibutuhkan oleh umat manusia sekarang. Tak ubahnya pesawat jet yang melesat dengan sangat cepat, demikian pula arus kehidupan yang diimpikan oleh kita semua. Melaju mengelilingi setiap sudut planet bumi, menjelajahi berbagai warta, dan bertukar informasi dengan lega tentu memerlukan laju kecepatan cahaya. Sekarang tak hanya sepersekian detik,… Lanjutkan membaca Melambat: Kemewahan di Derasnya Arus Kehidupan

Diterbitkan di Esai

Balik ke Hulu, Bersua Ruang Jiwa (Bagian II)

Malam hari biasanya menjadi waktu tenang di ruangan yang senantiasa menjadi wadah berkumpul, bercakap, atau hanya duduk menatap layar gawai. Terpampang televisi yang sedang menyiarkan sebuah acara yang sesekali disaksikan oleh kami. Ayah dan Ibu juga biasanya menghabiskan waktu di gawainya masing-masing, karena hanya malam hari lah mereka bisa melegakan pikiran setelah seharian letih bergelut… Lanjutkan membaca Balik ke Hulu, Bersua Ruang Jiwa (Bagian II)

Diterbitkan di Esai

Balik ke Hulu, Bersua Ruang Jiwa (Bagian I)

Hampir seluruh umat sudah tentu mendambakan rasanya balik ke hulu tempat dia berasal. Tempat di mana dia bakal bersua ruang jiwa dengan sepuasnya. Membicarakan kabar, bertukar pengalaman, dan mengisi ruang berkumpul yang sudah lama dinantikan. Mendekap hangat orang tua dan saudara yang sudah lama menyulam waktu demi menatap mata yang sedang menyinari semesta tanpa batas.… Lanjutkan membaca Balik ke Hulu, Bersua Ruang Jiwa (Bagian I)

Diterbitkan di Esai