Pertunjukan Masyarakat Hijau-Kuning

Kiranya hampir satu tahun yang lalu, sekonyong-konyong muncullah sebuah video pendek dari kanal The First Take di timeline YouTube milikku. Video itu awalnya menampilkan seorang perempuan dengan jaket kulit berwarna hitam, merentangkan tangan dan bernyanyi dengan penuh energi. Sorot kamera lalu dilanjutkan ke arah kibordis, basis, hingga gitaris yang setelannya hampir sama, hanya saja sang basis sendiri yang memakai rompi hitam. Mereka berempat hanyut dalam permainan musik yang begitu ekspresif dan sarat akan penghayatan. Lagu yang mengusung genre pop rock tentulah membuat personelnya bersemangat ketika memainkan instrumennya masing-masing. Video diakhiri dengan sang penyanyi mempersembahkan gestur senyuman dengan tangan kanan yang menyentuh pipinya sejenak. Takarir pada video itu tertulis: 緑黄色社会 – 花になって / THE FIRST TAKE. Beruntungnya, aku yang belum mengerti sama sekali huruf Kanji ataupun Hiragana, terbantu dengan judul dari tautan video panjangnya: Ryokuoushoku Shakai – Be a flower / THE FIRST TAKE. Demikian aku membuka tautan itu, mendengarkan sampai habis, dan langsung menyukai lagunya.

Setelah menonton dan mendengarkan beberapa video musik dari kanal YouTube resminya, band ini dengan segera menjadi salah satu band Jepang favoritku. Musikalitas yang bagus dan unik, serta timbre suara dari vokalisnya yang begitu membuat kagum telinga semakin meyakinkan diriku untuk mengulik lebih dalam lagi tentang mereka. Hanya bermodalkan Wikipedia, aku lantas menemukan arti dari nama band ini beserta nama personilnya. Sesuai dengan judul tulisan ini, Ryokuoushoku Shakai (黄色社会) berarti Green-Yellow Society. Biasanya disingkat menjadi Ryokushaka.

Biarpun aku tidak mengerti sama sekali liriknya, tetapi berbulan-bulan sudah aku dengar lagu-lagu mereka. Sesekali secara sepintas aku mencari maknanya saja, itu pun tidak semua, sebab aku lebih suka menikmatinya. Suara yang penuh energi dari Haruko Nagaya, melodi keyboard yang variatif dari Peppe, bassline yang terus berjalan ala musik Jepang pada umumnya dari Shingo Anami, dan riff gitar yang harmonis dari Issei Kobayashi adalah bumbu sedap dari setiap lagu mereka. Tak lupa pula dengan ketukan drum dari Osamu Hidai sebagai additional drummer yang menambah warna aransemen.

Tak lama setelah Hari Raya Idulfitri tahun 2025, akun resmi Instagram Ryokushaka mengunggah poster yang berjudul ASIA TOUR 2025, disertai dengan nama-nama kota yang akan dikunjungi. Perlahan aku baca dan telusuri satu per satu, hingga aku menemukan … 11.7 fri Jakarta. Spontan aku merasa sedikit terkejut dengan pengumuman itu. Sebab aku sama sekali belum pernah menemukan fanbase-nya di Indonesia, sampai-sampai aku pikir sepertinya tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentang Ryokushaka. Kendati demikian, sebetulnya sempat aku mengharapkan suatu saat nanti bisa menyaksikan mereka tampil di atas panggung, walaupun mungkin agak sulit. Ada rasa gembira, ada juga rasa tidak percaya.

* * *

Tiga hari setelah penjualan tiket untuk Jakarta dibuka, ada seorang fans membuat grup chat dan akun Instagram fanbase Ryokushaka Indonesia. Mengetahui hal itu, segera aku bergabung. Menyimak mereka berdiskusi mengenai lagu-lagu Ryokushaka, konser yang akan digelar, dan fan project yang mau dibuat, ternyata membuktikan bahwa antusias mereka sangat besar. Namun setelah beberapa bulan, melihat anggota yang ada di grup chat itu masih sangat sedikit, terkadang ada rasa khawatir konser bakal batal dan timbul pula dugaan jangan-jangan tiketnya nanti tidak laku terjual. Mujurlah mulai dari beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum konser, perlahan anggotanya bertambah. Hal itu membangun rasa optimis di kalangan fans. Dan … sampailah pada hari di mana pop rock band asal Jepang yang beranggotakan empat orang itu akan tampil untuk pertama kalinya di Jakarta.

Tak berselang lama sesudah gerbang dibuka, aku sampai di sekitar tempat pertunjukan. Di sana aku mengamati para fans sedikit demi sedikit mulai berdatangan dan mengantre di depan gerbang gedung Balai Sarbini. Beberapa di antara mereka memakai pakaian yang bernuansa hijau dan kuning. Walaupun belum terlalu ramai, tetapi aku sudah bisa merasakan euforia yang besar seolah-olah baru menyadari bahwa Ryokushaka ternyata cukup populer di kalangan penggemar musik Jepang di Indonesia. Beberapa menit sebelum pintu ruang konser dibuka, aku turut mengantre di depan gerbang, melalui pengecekan, sampai akhirnya masuk ke dalam gedung. Barulah aku melihat begitu ramai orang di sana. Luapan energi yang semakin besar mengisi gedung itu layaknya udara yang mengisi ruang kosong.

Ada yang memakai merchandise yang baru saja dibeli, ada yang sibuk antre berfoto di papan poster, ada yang menikmati makanan dan minuman, dan ada pula rombongan fanbase Ryokushaka Indonesia yang sibuk keliling membawa fan project—sebuah banner yang bergambar empat personil Ryokushaka dengan gaya anime—dan menawarkan kami untuk menggores tanda tangan di banner tersebut. Tentu saja, aku tak mau melewatkannya.

Tidak hanya rombongan fans Indonesia, ada pula yang berasal dari Jepang—barangkali ekspatriat atau memang sengaja berkunjung demi menonton idolanya. Terdengar pula saat mereka berbicara satu sama lain menggunakan bahasa Jepang. Sembari menunggu pintu ruang konser dibuka, aku menikmati saja pemandangan rombongan fans yang tampaknya memiliki semangat yang sama denganku, ingin segera menyaksikan pertunjukan yang agak tidak disangka-sangka. Siapa yang pernah menduga sebuah band Jepang yang jarang terdengar di Indonesia akan mengadakan konser di Jakarta? Aku tak bakal heran kalau yang datang adalah band Jepang yang lebih dikenal di sini seperti L’Arc-en-Ciel, Asian Kung-Fu Generation, Flow, Radwimps, dan lain sebagainya.

Demikianlah semua fans mengambil tempat duduk sesuai dengan tiket yang dibeli. Rupanya jarak antara panggung dengan kursi penonton tidak begitu jauh. Bahkan ada rombongan yang duduk di bagian belakang mengabarkan di grup chat bahwa mereka masih bisa melihat panggung dengan jelas. Sungguh beruntung aku mendapatkan tempat di barisan nomor 3 paling depan, tepatnya di bagian kanan panggung, dan tepat sekali di depan Peppe yang akan mempertontonkan kemampuan bermain keyboard-nya. Kendati demikian, aku tetap bisa melihat dengan jelas sampai ke bagian kiri panggung.

Ada satu peraturan yang menurutku sangat krusial: tidak boleh memotret atau merekam selama konser. Dengan begitu para penonton bisa dengan nyaman menikmati pertunjukan. Begitu pun dengan artis yang bakal terjaga eksklusivitas konsernya. Sampailah pada mereka berempat satu per satu naik ke atas panggung, menyapa penonton dengan senyuman dan tampilan yang memukau. Satu lagi hal yang aku suka dari Ryokushaka adalah gaya berpakaian mereka saat konser sungguh berkelas. Itulah kali pertama mereka yang sebelumnya hanya bisa ditonton lewat YouTube, sekarang berada di depan mataku secara langsung. Semua penonton berteriak mengeluarkan antusiasme yang sedari berbulan-bulan sudah terisi penuh. Peppe menuju keyboard-nya, ya, tepat di depan mataku; Shingo mengambil bass-nya, dia berada di dekat Peppe, dan ya, juga di depanku; Issei mengambil gitarnya, dia berdiri di sebelah kiri panggung; dan Haruko pun juga mengambil gitar acoustasonic-nya, lalu berdiri paling depan.

Lagu pertama, 陽はまた昇るから (Hiwa Mata Noboru Kara)

Petikan gitar dari Issei dan sentuhan keyboard dari Peppe menjadi sebuah harmoni yang memulai pertunjukan. Disambut dengan vokal Haruko yang begitupun sudah memukau. Lalu, disusul oleh ketukan drum dari Osamu dan suara bass dari Shingo. 

Judul lagu ini memiliki arti The Sun Will Rise Again. Sebuah lagu yang memiliki makna tentang harapan, menunjukkan bahwa ketika menghadapi kesulitan ada hal baik yang akan datang. Entah bagaimana setiap mendengarnya ada rasa teringat dengan kampung halaman. Padahal aku sama sekali tidak paham mengenai kata per kata dalam liriknya. Hanya bisa menghayati dan mengetahui maknanya sedikit saja. Bagiku, justru di situlah letak sifat lagu sebagai bahasa universal. Walaupun pendengar tidak paham liriknya, akan tetapi musiknya selalu bisa menyentuh hati. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan rasanya.

Di lagu pertama, para penonton masih duduk, menempati kursinya masing-masing. Sebetulnya pernah ada diskusi di grup chat bahwa berdiri bakal lebih seru. Sampai di lagu kedua yang berjudul Character, para petugas mengajak semuanya untuk berdiri. Betul saja, dengan irama lagu yang meriangkan hati, semuanya lantas menari bersama.

Di tengah-tengah pertunjukan, Haruko mengajak penonton berinteraksi. Mulai dari perkenalan diri setiap personil, hingga menceritakan pengalaman mereka selama di Jakarta. Kami sungguh menghargai bahwa mereka menuturkan bahasa Indonesia dengan cukup baik, terutama Haruko. Beberapa pembicaraan juga ada yang diucapkan dengan bahasa Inggris—walaupun ada beberapa kata yang agak kurang jelas, tetapi kami tetap mengerti juga. Bahkan Haruko sempat bertanya kepada penonton apakah ada yang bisa berbahasa Jepang, cukup ramai yang menjawab bisa atau bisa sedikit-sedikit. Hingga akhirnya sang vokalis mengajak berbicara dengan bahasa Jepang. Aku yang tak mengerti hanya bisa mendengar dan ikut tertawa saja.

Pertunjukan terus berlangsung hingga tak terasa sudah sampai ke lagu yang kedelapan belas, lagu Ryokushaka yang video musiknya paling banyak ditonton di YouTube: Mela!. Mulai dari tempo, musik, hingga suara vokal sungguh membuat tekad membara. Semuanya sama-sama menari, melompat, dan bernyanyi barangkali sepenggal-sepenggal. Lagu ini menggambarkan semangat untuk bangkit, melawan rasa ragu, dan terus melangkah maju. 

今なんじゃない?

メラメラとたぎる

こんな僕にも潜む正義が

どうしようもない衝動に駆られて

ほら気付けば手を握っている

Ima nan janai?

Meramera to tagiru

Konna boku ni mo hisomu seigi ga

Dou shiyou mo nai shoudou ni kararete

Hora kidzukeba te o nigitte iru

Bukankah sekarang saatnya?

Api di dalam diriku berkobar hebat

Bahkan dalam diriku yang seperti ini pun tersembunyi sebuah keadilan

Didorong oleh dorongan yang tak bisa kucegah

Lihatlah, tanpa sadar tanganku sudah menggenggamnya

Setelah lagu Mela! tuntas dimainkan dengan apik, para personil lantas meninggalkan panggung. Sontak para penonton kembali duduk dan kompak berteriak, “Ankōru, ankōru, ankōru”, kata serapan dari encore yang artinya mereka meminta untuk dimainkan lagu tambahan. Sampai akhirnya Shingo masuk kembali dengan membawa sebuah gimmick. Ia akan mempromosikan merchandise Ryokushaka tiap kali ia berhasil bermain kendama dengan durasi, kalau tidak salah, dua menit. Yang lebih lucunya lagi, ia hanya berbicara  “I am Shingo Teacher” dan diartikan oleh penerjemah dengan arti yang berbeda-beda. Penonton tertawa melihat aksi dari sang basis. Namun sayangnya, ia tidak berhasil mempromosikan semua merchandise-nya. Kemudian ia kembali ke belakang panggung.

Beberapa menit kemudian, para personil Ryokushaka kembali lagi ke panggung. Kali ini telah berganti baju dengan memakai kaos merchandise ASIA TOUR 2025 mereka. Segera mereka bersiap-siap lagi untuk memainkan dua buah lagu encore: illusion dan Party!!. Lagu penutup yang sangat cocok untuk mengakhiri pertunjukan yang terasa intim dan luar biasa pada malam itu. Dengan begitu tuntas sudah Ryokuoushoku Shakai tampil perdana di Indonesia.

Sebelum para penonton keluar dari ruang konser, beberapa di antaranya ada yang mengabadikan momen terlebih dahulu, berfoto di depan panggung. Aku rasa ini bakal menjadi momen yang akan terus dikenang dengan baik dalam hati semua fans Ryokushaka di Indonesia. Dan berharap semoga di lain waktu bisa kembali datang.

Beginilah jadinya musik sebagai bahasa universal. Tak peduli siapa pun orangnya, dari mana asalnya, apa bahasanya, bagaimana budayanya, kalaulah pesannya sampai baik dari lirik ataupun musik, bakal diterima juga di hati.

Diterbitkan di Esai

Tinggalkan komentar