Kembar

Sebuah kilau kecil yang berseri gemar sekali menemani kembarannya. Tak peduli di waktu mentari terbangun ataupun kembali tidur, dia tetap hadir mengawasi, tak ubahnya saudara kembar yang sanubarinya tertaut sampai kapan pun. Enggan kalah terang ketika berdampingan dengan sinar mentari yang menembus selimut kembarannya, seolah-olah hanya dialah yang boleh menyentuh pipi itu. Berbanding terbalik dengan selimutnya yang sangat panas, selimut kembarannya justru sejuk melindungi kehidupan di dalamnya. Dia bukan pelindung. Dia tidak lebih dari seorang pengagum. Beberapa kali terlintas di dalam mimpi bahwa suatu saat nanti dia akan meraih apa yang kembarannya miliki. Tiada sekalipun dia menolak untuk berhenti berharap. Wajah yang dibalut oleh limpahan biru yang sejuk dan rimbunan hijau yang teduh pastilah menggugah hatinya. Oh, betapa elok dirimu, wahai kembaran.

Waktu terus bergerak tanpa bisa dihentikan oleh makhluk apa pun. Dia yang selalu mengagumi kembarannya itu pada akhirnya benar-benar mendapatkan rupa yang selama satu abad ini dia tunggu. Akan tetapi, tidak ada rasa riang dan senyuman yang terpancar dari sinarnya. Lihatlah, bagaimana mungkin dia bersenang-senang di atas penderitaan kembarannya sendiri? Sungguh tak tega dia melihat rupa kembaran yang dulu dikaguminya telah berubah. Warna biru yang dulu berkilau kini menjadi kusam keabu-abuan. Begitu pula dengan warna hijau yang dulu sejuk kini menjadi pucat kecokelatan.

* * *

Sebuah gedung utama berlantai dua puluh menjulang tinggi ke atas langit yang bersih dan cerah. Hanya sedikit awan yang melambung, menyambut sinar matahari yang sangat benderang. Tembok gedung itu dihiasi oleh warna putih dan abu-abu, beserta jendela kaca yang berderet di sisi kanan dan kiri. Pada bagian depan terlihat tulisan “APA” yang berukuran besar dan berwarna biru dongker dengan aksen yang tegas. Tepat di bawahnya tertulis “Asosiasi Penerbangan Antariksa” dengan ukuran huruf yang lebih kecil. Di dalam kompleks yang sama, terdapat dua bangunan lagi yang berfungsi sebagai tempat penerbangan dan penelitian—ukurannya lebih pendek daripada gedung utama.

Ruangan rapat utama dihadiri oleh sepuluh orang. Semuanya memiliki perawakan yang tinggi dan ramping. Kulit mereka berwarna pucat kebiruan selayaknya warna pupil mereka. Rambut mereka pendek dan rapi—milik perempuan sedikit lebih panjang dibandingkan laki-laki—sesuai dengan batas yang sudah ditetapkan secara alamiah. Di salah satu sisi meja berderet tiga lelaki dan satu perempuan yang masing-masing menggunakan setelan jas hitam yang sungguh mengkilap dan menawan. Sementara di seberangnya diisi oleh para saintis, insinyur, dan dokter.

Semua pandangan terarah kepada seorang laki-laki yang berdiri di hadapan mereka. Otaknya sedang bekerja lebih keras, demikian jantungnya sedang mengalirkan darah dengan lebih deras. Dia tidak bisa menyangkal rasa kikuk yang sedari bangun tidur tak bisa terlepas dari pikirannya. Entah karena usianya yang masih belia atau belum terbiasa berbicara di depan umum, nada yang keluar dari mulutnya sedikit bergetar. Meski begitu, substansi yang dia bahas tersampaikan dengan jelas.

“Saya pikir dengan dilakukannya eksplorasi ini, kita akan mengetahui lebih dalam mengenai Bumi. Mulai dari kondisi alam hingga spesies apa saja yang masih bertahan,” ungkapnya sebagai penutup, diikuti dengan pandangan tajam dari para peserta. Perlahan detak jantungnya kembali normal dan rasa gelisah pergi menjauh seperti burung yang meninggalkan sangkar usang.

Menunggu sampai dia kembali ke tempat duduknya, seorang lelaki berumur tujuh puluh tahun yang berada di sisi kanan meja memulai pembicaraan. Tubuhnya yang masih bugar memancarkan wajah tanpa keriput dan wibawa yang tinggi.

“Jika ternyata memang benar ditemukan spesies yang masih bertahan di Bumi, apa yang sebaiknya kita lakukan, Doktor Tee?”

Ada kiranya Tee bersama teman-teman saintis, astronot, dan insinyur sudah mempersiapkan proposal eksplorasi ini selama enam bulan. Jelas bukan waktu yang sebentar untuk melakukan observasi, diskusi, perdebatan, hingga tiba waktunya mereka mempublikasikan gagasan tersebut, gagasan yang mungkin akan menjadi langkah awal dalam mengenali semesta. Maka, sudah pasti mereka telah menyusun jawaban dari setiap kemungkinan.

“Konservasi, Direktur Roo. Kami sudah memikirkan rancangan habitat yang cocok untuk hewan dan tumbuhan endemik dari Bumi.”

“Lalu, apa gunanya konservasi itu untuk planet ini? Aku rasa kehidupan kita di sini masih sepenuhnya terkendali. Kita belum melihat satu pun masalah yang datang.”

“Sekarang Venus belum memiliki rantai makanan yang seimbang. Populasi hewan dan tumbuhan kita masih sangat sedikit. Bahkan dalam satu dekade ini terjadi penurunan. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka akan menyebabkan masalah ekologis yang berujung pada terganggunya populasi dan ketahanan pangan kita.”

Rasa gelisah yang tadi sudah terbang menjauh, kini kembali dan hinggap lagi dalam pikiran Tee. Lambat-lambat ia menghirup oksigen Venus yang lebih bersih dibanding Bumi ke dalam paru-parunya. Kemudian menghembuskannya kembali sambil membuang kegelisahan yang menyebalkan itu sebelum ia menyambung jawabannya.

“Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang, sebab hal yang bisa diamati tak terhingga jumlahnya. Jika kita menutup mata terhadap luasnya alam semesta, sedikit demi sedikit peradaban kita akan mengalami kemunduran.”

Kedua mata Direktur Roo sejenak masih terpaku pada Tee. Setelah pikirannya menerima jawaban tersebut, dia melihat ke arah tiga orang petinggi lain, dan mereka mengangguk bersamaan seolah-olah digerakkan oleh ikatan batin yang sama.

“Bagaimana dengan krunya? Kau punya rekomendasi, Komandan Yuu?” tanya Direktur Roo kepada seorang lelaki yang duduk persis di sebelah kiri Tee.

“Setelah memperhitungkan ketersediaan sumber daya dan waktu eksplorasi yang singkat, tiga orang saja sudah cukup. Tee mengusulkan diriku sendiri sebagai komandan. Urusan medis akan dipegang oleh Dokter Nii,” tunjuk Komandan Yuu ke arah sang dokter perempuan di sebelah kirinya, “dan Doktor Tee sendiri yang akan menempati posisi saintis sekaligus insinyur.”

Keempat petinggi sedang mengkaji ulang proposal yang telah disusun sedemikian rapi itu pada tablet mereka masing-masing. Membalik-balik halaman dan menimbang-nimbang apakah eksplorasi tersebut layak untuk dicoba, serta berdiskusi dengan suara yang bahkan audiens di seberangnya tak mampu mendengar dengan jelas. Direktur Roo, seorang yang memiliki jabatan paling tinggi di APA, pastilah harus tepat dalam membuat keputusan demi peradaban Venus.

“Sebetulnya kami melihat banyak sekali potensi dari eksplorasi ini. Namun, kita harus memastikan apakah tenaga dan biaya yang dikeluarkan sebanding dengan hasilnya. Tentu tidak hanya APA, melainkan semua penduduk Venus berharap kalian akan membawa hasil yang berguna demi kemajuan sains kita. Tetapi, tak bakal ada kesimpulan tanpa percobaan, bukan? Dengan begitu, eksplorasi ini perlu kita lakukan. Sisanya akan kuserahkan kepada Departemen Penerbangan. Senang bisa mendengar ide dari kalian. Semoga berhasil.” Direktur Roo menutup rapat pada pagi yang terasa nyaman itu dengan senyuman, dan diakhiri dengan mereka yang saling berjabat tangan.

* * *

Butuh waktu sekitar empat bulan bagi mereka untuk menyiapkan penerbangan, sembari menunggu posisi Venus dan Bumi berdekatan, layaknya sepasang saudara kembar yang akan bertatap muka setahun sekali. Mereka semua sungguh bekerja keras untuk mewujudkan pendaratan di Bumi dengan mulus, merancang detail penelitian yang akan dilakukan, dan menyusun mitigasi kalau-kalau ada masalah yang terjadi. Tee menjadi orang yang paling antusias dengan misi ini. Hanya berbekal pengalaman bekerja di APA selama dua tahun, dia berusaha memberanikan diri untuk mengajukan gagasan tentang eksplorasi ke planet lain. Sudah sedemikian lama sepasang matanya selalu melihat ke arah planet terdekat dengan penuh harapan. Memang betul selama ini Venus hanya bisa memandang kembarannya dari kejauhan, mengakui betapa perasaan ingin bertemu semakin bergolak. Sabarlah sebentar, tak lama lagi kerinduan itu akan segera dipecahkan oleh makhluknya yang penuh rasa penasaran.

Geminus, nama yang diberikan untuk ekspedisi pertama manusia Venus ke Bumi. Nama itu akan segera dituliskan di dalam ingatan semua penduduk. Anak-anak yang gemar bermain, remaja yang bimbang memikirkan masa depan, orang dewasa yang haus akan kekayaan, hingga orang tua yang bermimpi memiliki umur panjang, bakal menyaksikan sejarah yang sesaat lagi segera dilukis.

“Kau lebih gugup dari biasanya,” pungkas Nii sembari berjalan dengan tenang ke arah Tee yang sedang berdiri menatap roket di hadapannya. Mereka memperhatikan insinyur-insinyur yang sedang memeriksa kesiapan roket.

“Aku rasa gugup bukan kata yang tepat. Bahkan rasa takjub pun tak bisa mewakilkan perasaanku sekarang ini.” Tee tidak terlalu menghiraukan kehadiran Nii. Dia lebih memilih untuk menengadahkan kepala ke bagian ujung atas roket.

“Kau memang orang yang sulit ditebak. Ini akan menjadi perjalanan yang menakjubkan sekaligus langkah awal dalam memahami semesta, bukan?”

“Aku harap begitu.”

Nii memutar badan ke arah laki-laki yang tiba-tiba hadir di belakang. Dia terlihat sangat tinggi, lengkap dengan setelan seragam yang sama seperti mereka berdua. Raut wajah lelaki itu begitu keras seolah ingin mengukuhkan tekad krunya.

“Tidak ada waktu untuk melamun lagi, rekan-rekan. Sudah saatnya bersiap untuk peluncuran,” perintah Komandan Yuu dengan suara yang tegas.

Setelah melalui persiapan sekitar tiga jam, mereka bertiga telah sigap menempati posisi masing-masing di dalam roket. Tanpa disadari degup jantung Tee perlahan semakin kencang dan syarafnya terasa lebih tegang. Tubuhnya mulai terasa lebih hangat, namun dia tak perlu khawatir karena seragam yang dikenakan mampu mengontrol suhu tubuhnya. Pikirannya dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengacaukan hati, namun tidak sampai mengecilkan semangatnya yang masih berapi-api. Sejak saat itu, dalam benaknya, Tee baru mengakui bahwa dirinya benar-benar gugup. Akankah ekspedisi ini berhasil? Apa yang akan menanti di Bumi? Akankah kami bertahan hidup sampai kembali lagi ke Venus?

Proses pemeriksaan terakhir dilakukan dan hitung mundur dikumandangkan. Penduduk sekitar yang melihat secara langsung maupun yang melalui gawai ikut merasakan ketegangan peluncuran ekspedisi manusia Venus pertama ke luar angkasa. Mereka semua menaruh banyak asa di pundak tiga orang yang akan mengubah dunia itu. Sampai pada waktunya ekspedisi Geminus resmi diluncurkan. Roket tersebut terbang, mencari selimut Venus untuk ditembus.

* * *

Untuk pertama kalinya, Venus bertemu Bumi walaupun hanya melalui mata makhluknya. Sungguh emosi yang tak bisa dijelaskan. Tee masih belum percaya bahwa mereka telah tiba di orbit Bumi, begitu pun dengan Nii yang memandang ke arah jendela bundar. Sementara Komandan Yuu mematikan mesin roket dan mulai menginstruksikan observasi pertama: pemindaian atmosfer dan permukaan planet. Tee yang masih kagum memandang kembaran planet mereka lantas bergegas menjalankan instruksi tersebut.

Atmosfer Bumi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Venus. Tentu mereka sudah mengetahui hal itu. Tetapi, mereka perlu memastikan dari jarak yang lebih dekat. Kadar oksigen yang lebih rendah dibandingkan Venus, kadar karbon dioksida yang tinggi, lapisan ozon yang tipis, dan partikel debu yang melimpah, menjadi selimut yang merangkul Bumi. Dari lapisan atmosfer terluar, langit Bumi tampak abu-abu. Lalu, efek rumah kacanya juga sudah berlebihan. Tak heran kalau suhu Bumi lebih panas dari Venus. Selanjutnya mereka harus memetakan daratan Bumi dan mencari wilayah untuk mendarat.

Venus memang tidak memiliki banyak hutan, tetapi jumlahnya masih mampu menopang kestabilan ekosistem. Berbanding terbalik dengan Venus, hutan yang terlihat lebih gundul di Bumi mengisyaratkan bahwa kehidupan di sana hanya tersisa sedikit lagi atau mungkin sudah musnah. Daerah yang tertutup oleh pohon lebih sedikit dibanding daerah yang hanya terhampar tanah—tidak sedikit yang menganga seolah isi perutnya sudah habis dikeruk.

Setelah menjalani observasi pertama dan mendapatkan lokasi yang cocok untuk pendaratan, mereka kembali sigap di tempat duduk masing-masing sebelum Komandan Yuu kembali menyalakan mesin dan melesat ke bawah meninggalkan orbit, seperti burung elang yang melayang dengan presisi.

Mereka berhasil mendarat di pesisir sebuah pulau kecil yang masih memiliki banyak pohon daripada wilayah lain. Pulau itu terletak di garis khatulistiwa—garis yang mereka ketahui menyimpan banyak keajaiban, tempat di mana harapan mereka dipertaruhkan. Sebelum turun dari roket, mereka berganti ke seragam EVA (Extravehicular Activity)—seragam khusus yang dipakai di luar angkasa. Komandan Yuu menjadi orang pertama yang keluar, disusul oleh Nii, dan terakhir Tee. Momen itu menjadi sejarah manusia Venus pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Bumi.

Ombak pantai melambai-lambai membawa hangatnya angin laut. Cahaya matahari sedikit lebih pudar dari yang biasa mereka lihat. Gelombang panas yang menyengat terdeteksi oleh sensor suhu di seragam EVA mereka. Gerombolan awan melayang lambat di langit yang kusam tanpa dihiasi satu ekor pun burung. Tidak ada kepiting yang keluar masuk ke dalam lobangnya di pasir pantai. Lautan yang luas itu sungguh lengang seolah hidup dalam kedamaian abadi. Keterasingan adalah sesuatu yang lazim di planet ini. Waktu melambatkan ritme kehidupan bersama ruang kosong yang tak perlu menampung penderitaan siapa pun. Kini hati Tee merasa terkurung dalam kesepian di pagi hari.

Tak bisa ia berlama-lama dalam kesunyian itu. Ada banyak hal yang harus dilakukan. Dengan segera ia membantu Komandan Yuu dan Nii yang sedang sibuk mendirikan kapsul hunian. Kapsul tersebut akan sangat berguna sebagai tempat tinggal mereka sementara dan pusat penelitian.

“Serahkan saja padaku untuk urusan interior kapsul. Kalian bersiaplah untuk memulai observasi.” Pertama kalinya suara Komandan Yuu terdengar dari radio komunikasi di dalam helm Tee dan Nii.

“Tee, kumpulkan semua data yang bisa kauambil dari lingkungan sekitar. Cukup dalam radius sekitar satu kilometer. Jangan terlalu jauh. Dan Nii, ikutlah dengan Tee. Bantuan medismu sangat diperlukan,” sambungnya.

“Baik, Komandan,” jawab mereka berdua serentak.

Mereka kembali ke dalam roket. Tee mengumpulkan alat-alat yang dibutuhkan, seperti berbagai macam sensor, GPS, tablet, dan kamera. Demikian dengan Nii yang menyiapkan perlengkapan medis dan tablet untuk memantau sensor kesehatan—seperti detak jantung, kadar oksigen dalam darah, dan suhu tubuh—yang dipasang di setiap seragam EVA mereka. Dengan penuh percaya diri, mereka memutuskan untuk pergi ke arah timur yang hutannya masih agak rimbun.

Sebelum meninggalkan roket dan kapsul hunian, Tee mengamati bagian pesisir terlebih dahulu. Mencatat cuaca saat itu, kondisi udara dan kelembaban, hingga pasir dan tanah di sekitar. Setelah data didapatkan, mereka melanjutkan perjalanan ke arah hutan. Tee berjalan paling depan sambil menengok pohon-pohon yang mengitari, disusul oleh Nii yang selalu bersikap waspada. Pohon di hutan tersebut tidak begitu rapat. Melainkan sedikit jarang-jarang sehingga tidak sulit untuk menembus masuk.

“Tinggi pohon-pohon di sini tidak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir akan setinggi pohon di Venus.” Nii memecah keheningan di antara mereka.

“Itu wajar karena gravitasi Bumi lebih kuat. Ditambah dengan iklim dan suhu yang tidak mendukung untuk pohon-pohon tumbuh lebat dan tinggi. Walau begitu, pohon yang ada di garis khatulistiwa ini lebih subur dari tempat mana pun di Bumi,” jawab Tee seraya melihat wajah Nii setelah mengamati sejenak lingkungan sekitar.

“Rerumputannya pun tidak selebat di Venus. Begitu pula dengan tanah yang kurang subur. Apa kau yakin di sini masih ada kehidupan?”

“Para saintis kita sudah memperhitungkannya. Kemungkinan itu selalu ada, asalkan kita terus mencarinya.”

Ada jeda sejenak sebelum Nii kembali berbicara. “Lihatlah, planet ini seperti rumah yang terbengkalai oleh tuannya yang tak bertanggung jawab.”

“Aku setuju. Tetapi ilmu pengetahuan kita belum mampu memprediksi seperti apa bentuk dan kehidupan Bumi sebelumnya. Kita belum bisa menyimpulkan apakah benar ada makhluk yang bertanggung jawab atas planet ini di masa lalu. Itulah alasan ekspedisi ini harus dilakukan.”

Nii menganggukkan kepala tanda menyetujui argumen yang disampaikan oleh Tee. Sang saintis selalu optimis dengan ilmu pengetahuan seperti memiliki loyalitas terhadap alam semesta. Dia begitu yakin bahwa suatu saat nanti kita akan memiliki lilin yang terang benderang untuk mengalahkan kegelapan dari misteri-misteri yang saat ini mengurung kita.

Mereka berjalan perlahan, seperti prajurit yang berada di medan pertempuran, selalu mencermati  sekeliling dengan penuh kehati-hatian. Kedua mata Tee tidak membiarkan satu pun detail terlewat. Pengamatan demi pengamatan menghasilkan data yang layak dicatat. Mulai dari morfologi tumbuhan-tumbuhan yang ditemukan, kandungan tanah, intensitas cahaya, dan kondisi udara di dalam hutan. Melihat sumber makanan yang tersedia dan situasi ekologis yang cocok untuk keberlangsungan rantai makanan, Tee berspekulasi bahwa seharusnya terdapat ekosistem yang besar dan variatif. Dia yakin cepat atau lambat mereka bakal menemukan spesies makhluk hidup selain tumbuhan. Kendati demikian, setelah menyusuri hutan selama sekitar dua jam, hingga masuk ke tepi pedalaman, keyakinan itu mulai goyah. Mereka tidak menemukan tanda kehidupan selain pepohonan dan rerumputan, bahkan jamur dan lumut pun tak terlihat.

Tee tidak mau memaksakan diri hingga melanggar perintah Komandan Yuu. Masih ada dua hari lagi untuk melanjutkan pengamatan.

“Hari ini sudah cukup. Ada baiknya kita kembali ke kapsul hunian,” ujar Tee yang sedang menaruh kembali peralatannya.

“Baiklah. Tergesa-gesa dalam penelitian juga bukan hal yang bijak,” jawab Nii dengan nada santai.

Dalam perjalanan kembali, Tee tetap berada paling depan seperti perisai yang selalu siap melindungi rekannya dari ancaman. Dia masih memiliki daya juang yang tak luntur, masih teramat yakin bahwa mereka akan kembali ke Venus dengan buah tangan. Sekonyong-konyong di tengah perjalanan Tee menyadari ada makhluk dari kejauhan.

“Komandan Yuu?” tanya Tee kepada Nii dengan sedikit kebimbangan.

“Aku tidak yakin Komandan menyusul kita. Bukankah seharusnya dia masih sibuk di kapsul?” balas Nii dengan suara datar.

Wajarlah Tee berpikir demikian. Makhluk yang mereka lihat memang memiliki perawakan yang serupa dengan Komandan Yuu. Yang berbeda hanyalah makhluk itu tidak mengenakan seragam EVA. Tee masih berusaha berpikir positif, barangkali Komandan sudah tahu bahwa udara di Bumi sebenarnya aman. Sementara Nii masih dilanda oleh rasa ragu.

Meski demikian, dengan tetap mempertahankan sikap skeptis, Tee mengajak Nii untuk mendekat pelan-pelan. Kala mereka semakin mendekat, makhluk itu tetap diam, tak ada sedikit pun tanda pergerakan. Kiranya dari jarak lima meter, makhluk itu terlihat sangat jelas. Agaknya dia adalah laki-laki. Sungguh wajahnya sama sekali mirip dengan Komandan Yuu. Raut mukanya pun begitu. Semua aspek terlihat serupa. Tetapi, mereka sadar bahwa lelaki itu memiliki rambut yang lebih tebal, warna kulit yang kecokelatan, dan mata yang cerah. Masih sempat terpikir oleh Tee bahwa mungkin saja itu adalah pengaruh dari kondisi alam di Bumi atau ilusi optik. Dibalik ketenangan yang memaksanya, ada sedikit kecemasan yang mulai muncul.

“Komandan, malam ini kita bisa melakukan analisis tahap awal untuk data-data yang sudah dikumpulkan, sebelum besok kita lanjutkan pengamatannya lagi,” ujar Tee yang terus meyakinkan dirinya.

Lelaki itu tak menunjukkan pergerakan ataupun mengeluarkan suara sedikit pun. Kedua bola matanya mencari-cari makna dari apa yang baru saja dikatakan oleh sang saintis. Sekarang Tee mulai sedikit waspada, namun ia tetap melanjutkan.

“Apakah udara di sini benar-benar aman? Tampaknya lebih baik tetap memakai seragam EVA.”

Berbeda dengan Tee yang berani berbicara, Nii hanya memperlihatkan tubuhnya yang kaku seperti sebuah pasak yang nasibnya harus diam menahan dua pasang kayu. Dia tidak sanggup untuk menyela, dan masih dihantui oleh keraguan yang beringsut menggerogoti pikirannya. Mendadak lelaki itu mengeluarkan suara yang sedikit berat. Raut mukanya terlihat seperti seseorang yang sedang marah. Tiada satu kata pun yang Tee dan Nii pahami.

“Hei, kau sudah mempelajari bahasa Bumi, Komandan? Terdengar cukup aneh, tetapi unik. Penemuan yang luar biasa,” cetus Tee dengan takjub dan … gelisah.

Lelaki itu kembali mengeluarkan suara dengan pola yang sama, namun kali ini iramanya penuh dengan kemarahan yang memuncak. Dengan tetap mengawasi Tee dan Nii, tangannya pelan-pelan mengais kantong di belakang pinggangnya. Spontan dia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang langsung ditodong ke arah Tee, lalu ke arah Nii, lalu kembali lagi ke arah Tee. Matanya sangat lurus menatap kedua sejawat itu. Badannya mulai tegang dan memasang posisi untuk menyerang.

Dengan cepat dia mendorong tubuhnya ke arah Tee. Sesaat melihat mata pisau yang diarahkan ke dadanya, Tee langsung melompat ke kanan dengan gesit, membuat jarak pemisah antara dirinya dan Nii.

“Lari, Nii!” teriak Tee dengan histeris, lalu melemparkan salah satu GPS kepada sang dokter. Meskipun dengan tangan yang gemetar, Nii berhasil menangkapnya dengan reflek yang cukup cepat. “Ikuti tandanya! Itu mengarah ke kapsul hunian kita. Cepat!”

Nii masih mencerna apa yang sedang terjadi. Setelah Tee berteriak beberapa kali, dia baru sadar dan segera berlari mengikuti petunjuknya. Sementara itu, sang saintis berlari ke arah yang berlawanan untuk memancing lelaki tersebut. Meskipun mengenakan seragam EVA, dia tetap memaksa dirinya untuk berlari sekencang mungkin. Tee masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa begitu mirip dengan Komandan Yuu? Bagaimana bisa ada seseorang yang mukanya mirip dengan seseorang dari planet lain? Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Logika Tee sedang terkurung dalam adrenalin dan sinyal untuk menyelamatkan diri. Dia harus cepat memperlebar jarak dengan lelaki itu dan mencari tempat berlindung.

Setelah berlari cukup jauh, Tee memperhatikan sekelilingnya, tiada lagi tanda lelaki yang mengejarnya tadi. Detak jantungnya telah mencapai zona tiga. Dengan cepat dia menghirup udara dari tabung oksigennya, hingga mengisi paru-parunya yang sedikit pengap. Berangsur dia menenangkan tubuhnya seraya bersandar di bawah pohon, berharap bahwa lelaki itu tertinggal jauh. Demikianlah kerja syaraf-syaraf di otaknya bisa kembali lebih lengang. Sejenak ia memejamkan mata, menjaga ritme pernapasan. Ketika dirinya sudah cukup tenang, dia mencoba menghubungi Nii dengan radio komunikasi, yang mampu menjangkau sinyal dalam radius satu kilometer.

“Nii, kau dengar aku?” tanya Tee dengan napas yang terengah-engah. “Nii?”

Tidak ada suara yang membalas. Tampaknya mereka berdua terpisah cukup jauh. Tee hanya bisa berharap Nii berhasil kembali ke kapsul. Beberapa menit telah berlalu, Tee hampir terjatuh ke dalam sebuah keheningan sebelum dia mendengar suara langkah kaki. Dedaunan kering dan ranting yang berjatuhan terus berbunyi, satu per satu. Angin di dalam hutan menjadi lebih kencang dari sebelumnya dan terasa lebih hangat. Keinginan untuk segera kabur menggoncang batin Tee. Akan tetapi, gravitasi Bumi dan seragam EVA seolah tidak mengizinkannya untuk bergerak lagi. Dia hanya bisa pasrah sampai akhirnya langkah kaki tersebut tepat berada di balik pohon tempat ia bersandar. Tee menengok ke sebelah kanan dan mendapati kepala seorang wanita menoleh ke arahnya.

“Nii!” seru Tee dengan menahan suaranya. “Kenapa kau ke sini? Harusnya kau kembali ke kapsul!”

Tak lama setelah berseru Tee lekas sadar bahwa ada yang aneh dari wanita yang berdiri di hadapannya. Dia tidak memakai seragam EVA, rambutnya lebih panjang, dan matanya lebih cerah daripada Nii. Perbedaan yang juga tampak dari lelaki yang tadi mengejarnya. Lebih-lebih lagi dia membawa sebuah tongkat. Wanita itu langsung menunjukkan amarah dan melayangkan tongkatnya ke arah helm Tee. Beruntungnya sang saintis dapat menghindar. Tongkat tersebut tepat mengenai batang pohon tempat bersandarnya tadi. Pada saat itu juga Tee harus melawan gravitasi Bumi demi berlari menjauhkan diri dari bahaya.

Kalau dirinya mengarah ke kapsul, yang ada malah dia membawa petaka. Demikian ia memutuskan untuk berlari ke arah yang berbeda. Dia sendiri pun tak tahu ke mana. Dari awal mereka masuk ke hutan pemandangan yang dilihatnya sama sekali tiada perbedaan. Hal ini yang justru membuat navigasi menjadi lebih sulit. Namun hanya ada satu pilihan, terus berlari menjauh dari wanita itu. Dia dipaksa oleh alam untuk bertahan, sebagaimana hakikat makhluk hidup.

Beberapa ratus meter telah ia tempuh dengan kaki yang sudah lunglai. Begitu pun tabung air minumnya tinggal menyisakan sedikit air. Sekali lagi keadaan berpihak kepadanya. Wanita itu tertinggal jauh. Tak lama kemudian ketika sedang berhenti sejenak, seorang laki-laki datang dari arah depan. Tee kembali memasang sikap waspada dan mengambil ancang-ancang untuk kabur lagi. Lelaki itu semakin mendekat, berjalan lambat-lambat. Tee memperhatikan ternyata lelaki itu memakai seragam EVA. Tak lama berselang, terdengar suara dari radio komunikasi di dalam helmnya.

“Tee!” Suara Komandan Yuu begitu lantang. “Kalian baik-baik saja?”

Tee tidak menjawab. Dia masih skeptis dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Komandan Yuu mempercepat langkah untuk menghampiri sang saintis. Saat tiba di tempat Tee berdiri, kedua tangan Komandan Yuu memegang bahunya. Lalu kembali bertanya, “Kau mendengarku Tee? Apa yang terjadi?”

Setelah mendengar semua pertanyaan itu, Tee yakin lelaki itu memanglah Komandan Yuu. “Aku pikir kau benar-benar bodoh melepas seragam EVA di planet ini.”

“Apa maksudmu?”

“Untungnya kau berbicara dalam bahasa Venus.”

“Apa ada yang salah dengan caraku berbicara? Kau bertingkah sangat aneh.”

“Kau tidak membawa pisau kecil, bukan?”

“Untuk apa aku bawa benda itu. Jelaskan padaku apa yang sedang kaubahas.”

Suasana hening sesaat sebelum Tee menjawab. “Singkatnya tadi kami bertemu kembaranmu. Akan kita bahas selengkapnya nanti. Apakah Nii sudah sampai ke kapsul? Dari tadi aku tidak bisa menghubunginya. Kami berpencar karena kembaranmu tiba-tiba menyerang, dan aku memancingnya ke area sekitar sini.”

“Nii? Tidak ada siapa pun selain aku di kapsul. Aku ke sini karena sudah menunggu kalian cukup lama. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kau maksud dengan kembaranku?”

“Oh, tidak. Situasi semakin memburuk.”

Kedua mata Tee terbelalak, pupilnya mengecil seperti bintang yang dipandang dari jarak bertahun-tahun cahaya. Usahanya menjauhkan Nii dari makhluk itu ternyata tidak berguna. Sekarang ia murka dengan dirinya sendiri. Persediaan oksigen dan air minum milik Tee yang kian menurun turut menambah tekanan batin yang dialaminya. Komandan Yuu mulai paham dengan apa yang menimpa rekan-rekannya.

“Sebaiknya kita kembali ke kapsul dulu. Tenangkan dirimu. Kita masih punya cara untuk mencari Nii.”

Tee tertegun sekejap mendengar hal itu. “Nii mungkin berada di radius yang lebih dari radio komunikasi kita bisa jangkau. Lantas bagaimana bisa kita berkomunikasi dengannya?”

“Alat pemancar sinyal darurat.”

* * *

Ada kalanya batin seorang saintis terbawa emosi. Tetapi pikirannya tetap berada dalam kendali, memikirkan segala kemungkinan yang bisa dicoba. Sebelum masuk ke dalam kapsul hunian, mereka berdua melewati airlock—ruangan dengan tekanan yang terkontrol yang berfungsi sebagai tempat transisi antara lingkungan eksterior dan interior kapsul—dan berganti pakaian. Berikutnya Tee dan Komandan Yuu segera mencari komponen-komponen untuk dirakit menjadi alat pemancar sinyal darurat. Saat semuanya sudah disiapkan, Tee mulai merakit bagian inti: unit pemancar yang berfungsi sebagai transmitter dan receiver sinyal radio. Sang saintis begitu fokus mengintegrasikan sirkuit, kabel, speaker, mikrofon, serta baterai. Beberapa kali dia membolak-balikkan buku panduan dan membongkar pasang komponen. Di saat bersamaan, setelah mengambil seperangkat antena pemancar—ukurannya sekitar dua meter—Komandan Yuu kembali lagi ke airlock, mengenakan seragam EVA, dan keluar dari kapsul untuk memasangkannya.

Tiba waktunya proses akhir dari perakitan, memasang penutup di masing-masing sisi. Unit pemancar itu berbentuk kotak seukuran ransel kecil yang berwarna kuning. Setelah rampung dirakit, Tee menuju airlock dan mengenakan seragam EVA. Tak lama kemudian ia keluar dari kapsul, menyusul Komandan Yuu, dan memulai misi pencarian Nii. Unit pemancar tersebut dihidupkan dan disambungkan ke antena yang telah didirikan oleh Komandan Yuu. Tee mengambil tablet dan menghubungkannya ke unit pemancar, untuk mengontrol dan mengkalibrasi sinyal. Setelah berulang kali dia mengatur agar mendapatkan frekuensi yang minim gangguan, layar di tabletnya menunjukkan keadaan sinyal yang stabil. Komandan Yuu mengangguk seolah memberi isyarat kepada Tee untuk langsung mencoba alat tersebut.

“Nii, di sini Tee, apa kau bisa dengar?” Suara Tee menyimpan rasa optimis yang besar.

Mereka menunggu selama beberapa detik, namun tetap tidak ada balasan. Tee tetap melanjutkan. “Tee di sini, apa kau bisa dengar?” Masih belum ada jawaban yang keluar dari unit pemancar.

“Sepertinya kau perlu atur lagi frekuensinya,” kata Komandan Yuu.

Tee kembali mencari frekuensi dengan perhitungan yang dijalankan di tabletnya. Lalu dia mencoba berbicara lagi. “Nii, beri jawaban jika kaudengar suaraku.”

Kurang lebih enam detik mereka sabar menanti. Sempat berpikir untuk mengatur ulang frekuensi sebelum akhirnya speaker unit pemancar mengeluarkan suara distorsi selama beberapa detik, lalu suara seorang wanita menyambut.

“Nii di sini. Aku berada di pedalaman hutan. Jaraknya dari pesisir sekitar empat kilometer. Aku butuh bantuan segera.”

“Akhirnya.” Hati Tee terasa lebih luas setelah mendengar suara itu. “Kirimkan koordinatnya. Kami akan ke sana.” Tak lama setelah itu Tee menerima pesan koordinat dari Nii.

“Apa kau terluka?” tanya Tee. Tiba-tiba sinyal menjadi tidak stabil. “Nii? Kau masih dengar suaraku? Nii? Sial sinyalnya terputus!”

“Segera siapkan semua persediaan. Kita harus cepat,” perintah Komandan Yuu.

* * *

Matahari semakin terik. Sinarnya yang terang tertahan oleh gumpalan kabut dan awan yang membungkus Bumi. Tanpa rasa takut Komandan Yuu memimpin perjalanan ke pedalaman hutan. Mereka berdua membawa persediaan air, oksigen, makanan, dan perlengkapan medis cadangan. Kelelahan yang Tee rasakan sebelumnya tidak menjadi penghalang untuk berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Tee tak perlu khawatir, karena dia sekarang tidak sendirian, dia bersama seorang komandan yang selalu sigap menjaganya.

Jauh di pedalaman, hal yang sangat diharapkan oleh Tee pada akhirnya terpenuhi. Hewan-hewan mulai menampakkan wujudnya. Satu per satu ia amati. Ada yang berkaki empat berlari di antara pepohonan. Ada burung yang terbang rendah di atas hutan. Dan ada serangga yang berkeliaran di tanah dan batang pohon. Secara kasat mata jumlahnya memang sedikit, tetapi merekalah asa yang menerangi semesta.

“Pantas saja kami tidak menemukan satu pun hewan, ternyata mereka semua hidup di sini,” ungkap Tee.

“Sungguh menarik. Percayalah kita pasti akan lanjutkan pengamatan ini nanti,” usul Komandan Yuu.

“Tentu saja, Komandan.”

Sekitar dua ratus meter dari koordinat tempat Nii berada, mereka berhenti sebentar. Sebuah rumah kecil berdiri dengan halaman yang tidak terlalu luas. Dinding kayu dan atap jeraminya tampak begitu lusuh. Tidak ada bangunan lain di sekitar. Jauh dalam pikirannya, Tee menyiapkan sikap untuk situasi terburuk yang akan mereka lihat. Sementara Komandan Yuu tetap tegap memandang lurus ke rumah tersebut.

“Kau tak perlu cemas. Kita harus hadapi semuanya bersama demi keberhasilan ekspedisi ini,” ujar Komandan Yuu.

Sekonyong-konyong timbul kembali kepercayaan diri dalam jiwa Tee. Komandan Yuu benar, mereka bertiga harus kembali ke Venus sesulit apa pun rintangannya. Sesampai di depan rumah itu, alih-alih mendobrak, Komandan Yuu mengetuk pintunya dengan hati-hati. Pintu terbuka, bergelayut layaknya kayu yang rapuh. Dari dalam rumah keluar seorang laki-laki yang perawakannya mirip sekali dengan Tee. Lagi-lagi perbedaan yang menonjol ada pada bagian rambut, mata, dan kulit. Melihat cerminan dirinya sendiri, Tee seketika terpukul mundur. Namun, lelaki itu tidak memperlihatkan amarah sama sekali, melainkan memberi isyarat untuk masuk.

Setelah proses pencarian yang cukup memakan waktu, tibalah Komandan Yuu dan Tee bertemu dengan Nii, yang masih utuh mengenakan seragam EVA. Dia duduk membentuk lingkaran bersama lelaki dan wanita yang sempat mengejar Tee pagi tadi. Nii langsung menoleh ke arah rekan-rekannya, mendapati mereka berdiri seperti anak kecil yang kebingungan mengamati sebuah fenomena aneh.

“Syukurlah kalian bisa menemukan tempat ini.” Sang dokter tak bisa menahan emosinya yang kusam bercampur dengan rasa tenang.

“Beruntungnya dirimu baik-baik saja, Nii. Bagaimana kau bisa sampai ke sini?” tanya Komandan Yuu.

“Pertama, Tee, maafkan aku karena tidak bisa sampai ke kapsul hunian.”

“Akulah yang bersalah. Ini semua karena ide bodohku yang membuat kita terpencar,” ujar Tee dengan sedikit kekecewaan.

“Kedua, aku bertemu lelaki yang mirip dengan Tee itu ketika aku sedang berlari menuju kapsul. Tentu awalnya dia mengepung dan ingin memukulku dengan sebuah tongkat kayu. Namun, tiba-tiba dia terhenti, tongkatnya terlepas, dan buru-buru memegang kaki kanannya. Dia begitu meringis kesakitan hingga tak menatapku lagi. Saat itu benakku berkata bahwa dia benar-benar terluka. Sebagai dokter, aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja, bukan? Dengan terpaksa aku harus menghilangkan rasa curiga. Setelah aku periksa, ternyata memang ada luka yang cukup besar di area pretibial. Dengan cepat aku mengeluarkan alkohol untuk membersihkan lukanya dan perban untuk menutupinya. Kemudian aku memapahnya sampai ke rumah ini.”

Komandan Yuu mengangguk sesaat mendengar penjelasan dari Nii. Dia menoleh sebentar ke arah tiga manusia Bumi yang duduk memperhatikan mereka. Sang komandan paham betul bahwa mata yang melirik itu tidak menyimpan amarah, melainkan rasa penasaran yang seperti dirinya, Tee, ataupun Nii rasakan. Barangkali inilah pertanda bahwa mereka sebetulnya bisa saling memahami.

“Bagaimana kalian bisa saling berkomunikasi?” tanya Komandan Yuu.

“Tidak ada cara selain menggunakan bahasa tubuh,” jawab Nii.

Komandan Yuu menghadap para manusia Bumi, lalu menundukkan badan selama beberapa detik, mengutarakan rasa terima kasihnya.

Tee yang sedari tadi hanya memperhatikan situasi, merasakan bagaimana mengerikannya pertemuan pertama dengan mereka, perlahan melapangkan hatinya. Dan sang saintis ternyata memiliki sebuah ide yang sungguh menarik. “Sebelum kita kembali ke kapsul hunian, bagaimana kalau kita mencatat beberapa kosakata bahasa manusia Bumi dulu? Mungkin nanti kita bisa melakukan penelitian antropologi terhadap mereka.”

“Sudah sekitar empat jam aku di sini tidak mungkin tak ada yang aku lakukan. Beberapa kosakata sebenarnya sudah aku catat. Nanti akan aku serahkan. Aku percayakan padamu untuk membuat software penerjemahnya. Terlepas dari itu, aku setuju untuk mengumpulkan lebih banyak kosakatanya,” jawab Nii.

Komandan Yuu berpikir sejenak, menimbang-nimbang apakah ide tersebut layak dicoba. Lalu dia berkata, “Baiklah, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Mereka berenam akhirnya duduk bersama membentuk lingkaran yang hampir memenuhi seisi ruangan. Sebagai permulaan Nii memperkenalkan nama dari ketiga manusia Bumi itu. Lelaki yang mirip Komandan Yuu bernama Yano; lelaki yang mirip Tee bernama Taru; dan perempuan yang mirip Nii bernama Nuna. Nii menceritakan bahwa Yano dan Nuna merupakan sepasang suami istri dan Taru adalah anak semata wayang mereka. Dan mereka bertiga adalah satu-satunya manusia Bumi yang hidup di pulau ini.

Lantas Komandan Yuu dan Tee mencoba melafalkan nama-nama manusia Bumi itu dengan sedikit terbatah-batah. Sekarang giliran sang komandan dan sang saintis mengucapkan nama mereka masing-masing. Pelafalan namanya kemudian ditiru oleh para manusia Bumi.

“Yu-u… Te-e…” Yano bersuara dengan ragu-ragu. Diikuti oleh Taru dan Nuna yang mencoba pula.

“Ya, kalian benar.” Komandan Yuu menyeringai saat mendengar namanya pertama kali disebut oleh sekelompok makhluk yang hidup di luar Venus. Meski senyumannya tak terlihat di balik helm, dia memberikan gestur dua jempol kepada mereka. Yano, Taru, dan Nuna pun turut gembira sebab berhasil menyebut nama makhluk Venus selain “Nii”.

Tee ingin memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat. Demikian dia menoleh ke wajah Nii. “Apa yang terjadi dengan manusia Bumi? Kenapa hanya tinggal mereka yang masih hidup di sini?”

“Dari obrolan dengan mereka yang aku pahami sebelumnya, sudah hampir dua puluh tahun populasi manusia Bumi menurun drastis. Cuaca ekstrem, lingkungan yang rusak akibat aktivitas manusia Bumi itu sendiri, serta punahnya berbagai spesies hewan dan tumbuhan menjadi sebab utamanya. Kebanyakan dari makhluk hidup di Bumi—termasuk manusia—mati karena kelaparan dan bencana alam. Yano dan keluarganya beruntung karena sempat melarikan diri ke pulau terpencil ini. Dari awal pulau ini memang tidak pernah dihuni oleh seorang pun manusia Bumi. Sejak saat itu hingga sekarang, merekalah penghuninya,” jelas Nii.

“Masalah ekologis memang mengerikan.” Tee sembari merenung tentang apa yang menimpa planet kembaran Venus ini. Pastilah berat menghadapi masalah yang mampu menyebabkan kepunahan massal, apalagi spesies sendiri yang menjadi korban.

Mendadak Komandan Yuu menepuk bahu Tee. “Kita akan lanjutkan pembahasan itu nanti. Sekarang mari lakukan apa yang kau sarankan tadi.”

Komandan Yuu meminta Nii untuk tetap menjadi penghubung, sementara Tee yang mencatat. Bila hanya menaruh perhatian pada kosakata, sebuah bahasa akan sulit dimengerti dan software penerjemah tidak akan bisa diwujudkan. Maka Tee juga harus menganalisis pola kalimat. Setelah beberapa lama berlalu, sang saintis sadar bahwa terdapat beberapa kata yang sering muncul, seperti “saya”, “kami”, “keluarga”, “hidup”, “makan”, “hutan”, “hujan”, “angin”, dan “panas”. Tanpa perlu paham keseluruhan kalimat, Tee bisa menebak topik apa yang mereka utarakan.

“Baiklah, aku rasa sudah saatnya kita harus kembali ke kapsul hunian. Aku tidak ingin mengambil risiko kalau kita pulang setelah matahari terbenam. Terlebih lagi kita perlu cepat menganalisis data yang dikumpulkan Tee pagi tadi dan mulai merancang software penerjemah,” ajak Komandan Yuu.

Saat hendak berdiri, Komandan Yuu terperanjat akibat gemuruh petir yang menggelegar. Seisi ruangan seketika hening. Raut wajah Yano dan keluarganya ikut berubah, penuh dengan kegelisahan dan ketakutan. Tak berselang lama, hujan turun, membasahi seisi pulau yang tadinya tampak kering. Perlahan curah hujan semakin tinggi. Suara rintiknya yang terus mengentak atap rumah menjadi penyemarak di kala sunyi.

Yano berbicara pelan dengan mulut yang bergemetar. Kedua tangannya merangkul Nuna dan Taru, menenangkan hati mereka. Tak cukup hujan deras, alam pun menugaskan badai untuk turut menerpa. Rumah kecil itu memaksa fondasinya untuk tetap berdiri menahan goncangan angin. Petir kembali menggeram. Lebih dahsyat dari sebelumnya, menimbulkan firasat yang tak mengenakkan dalam diri sang komandan. Raungan badai semakin menggelora, mengaum layaknya harimau yang haus darah. Terdengar samar-samar bunyi kayu yang berderak. Mereka lekas mencari-cari dari mana suara itu berasal. Lama kelamaan bunyi itu kian berulang. Sampai pada akhirnya pintu depan rumah Yano terhempas. Air hujan mulai menembus masuk ke dalam rumah. Kemudian disusul oleh atap jeraminya yang satu per satu mulai berterbangan, terbawa oleh angin yang bertambah kencang. Tiba-tiba kerangka atap yang berada tepat di atas Yano bergoyang dan … langsung roboh tanpa bisa dicegah.

Tee yang duduk dekat Yano menyadari hal itu. Dia langsung mendorong Yano dan keluarganya menjauh sebelum kerangka atap itu roboh. Namun naasnya Tee harus menjadi korban yang tertimpa tumpukan balok kayu.

“Tee!” Komandan Yuu dan Nii berteriak dengan sungguh histeris.

Yano masih belum percaya dengan apa yang disaksikan di depan matanya. Dengan wajah yang pucat dia menatap tumpukan balok kayu itu. Di bawahnya ada seorang makhluk asing yang baru saja berkorban untuk menolongnya. Sambil meringis kesakitan, karena pecahan dari balok kayu itu ada yang mengenai lengannya, terlebih dahulu ia memastikan bahwa Nuna dan Taru tidak terluka. Setelah itu, tak mungkinlah ia hanya duduk, sementara Komandan Yuu dan Nii sedang berusaha keras menyingkirkan satu-satu balok kayu itu. Lantas dia pun memaksa bergerak untuk membantu.

“Lengan kirimu terluka. Jangan memaksakan diri,” ujar Nii sambil menunjuk luka Yano dan menyilangkan tangan.

Yano menggelengkan kepala, mengibaskan tangan, dan mengeluarkan suara yang menandakan bahwa dia baik-baik saja. Tak berselang lama, Komandan Yuu memapah Tee dan membaringkannya di tempat yang lebih aman. Beruntungnya seragam EVA yang tebal mampu melindungi tubuh Tee. Namun, tetap saja dia mengernyit, menahan nyeri di punggung dan bahunya.

“Sebaiknya kau jangan banyak bergerak dulu,” ucap Komandan Yuu kepada Tee. Kemudian dia melanjutkan. “Nii, obati luka Yano segera. Setelah badai mereda, kita harus keluar dari sini dan menuju kapsul hunian.”

Begitu mendengar perkataan sang komandan, Taru dan Nuna yang awalnya dikurung oleh ketakutan, sebentar lagi akan dijemput oleh harapan. Di waktu yang bersamaan, air hujan sedikit demi sedikit menggenangi ruangan.

* * *

Mujur badai tidak berlangsung lama. Komandan Yuu memimpin perjalanan kembali ke kapsul hunian. Walaupun Tee masih bisa berjalan, dia tetap harus dibantu oleh sang komandan. Sampai akhirnya mereka tiba di tujuan setelah sekitar satu jam berjalan kaki.

“Kalian tidak perlu khawatir. Pada dasarnya atmosfer Venus dan Bumi mirip. Dan kita sama-sama menghirup oksigen.” Nii menunjuk ke arah kapsul hunian seraya memberi gestur bahwa di dalam sana aman. Para manusia Bumi mengangguk tanda paham dengan makna bahasa tubuh tersebut.

Sebelum masuk ke dalam, mereka semua harus melakukan pemeriksaan di ruangan airlock, tanpa terkecuali. Setelah udara steril dan semuanya berganti pakaian, pintu bagian dalam kapsul terbuka.  Dengan cekatan Nii langsung memeriksa punggung dan bahu Tee. Begitu selesai dia memastikan bahwa hanya terdapat memar dan tidak ada cedera yang serius. Sang dokter mengoleskan gel sintesis pereda nyeri. Untuk sementara, Tee tidak boleh banyak bergerak.

Taru tertegun melihat sekeliling interior kapsul. Begitu banyak peralatan canggih yang tidak ia mengerti. Pikirannya seolah membisikkan bahwa mungkin inilah bentuk teknologi masa depan, yang peradaban mereka bisa capai, seandainya Bumi tidak rusak. Di sisi lain Nuna begitu khidmat menghirup oksigen, menyadari suasana dan udaranya jauh lebih nyaman daripada di luar.

“Kita perlu memperpanjang durasi ekspedisi,” cetus Komandan Yuu seraya mengamati anggota timnya satu per satu. “Kita tidak bisa membiarkan Yano dan keluarganya begitu saja setelah apa yang telah terjadi. Terlebih kita berhutang budi kepada mereka. Walaupun dipertemukan dengan konfrontasi, tetapi pada akhirnya berkat mereka kita punya kesempatan untuk mempelajari bahasa manusia Bumi. Maka sebelum pulang, kita harus membantu memperbaiki tempat tinggal mereka.”

Namun, terlebih dahulu Tee mempertanyakan keputusan itu. “Sampai kapan, Komandan? Dan bagaimana dengan persediaan makanan kita? Aku pikir tidak bakal cukup.”

“Kita akan perpanjang menjadi dua minggu. Dan dengan terpaksa kita harus mengikuti cara manusia Bumi mengumpulkan makanan. Apakah kalian keberatan?”

Tee terdiam sesaat. Pandangannya tertuju entah ke mana. Pupil matanya yang berwarna biru itu seakan terasa hampa. Dia kembali membuka suara. “Baiklah, aku setuju.”

Selesai Tee berbicara, Nii pun berkata, “Aku tidak keberatan sama sekali.” Dia lantas menyampaikan hal tersebut kepada Yano. Begitu mengetahui hal itu, hatinya tersentuh, dan ia pun mengakui bahwa kalau hanya mengandalkan tenaga keluarganya sendiri pasti akan memakan waktu yang cukup lama. Lelaki itu membungkukkan badan, menyampaikan rasa terima kasih. Nii dengan segan mengibaskan tangan dan menyuruhnya untuk bangkit.

Komandan Yuu yang sedang berhadapan dengan komputer pribadinya mengambil mikrofon dan mengirimkan pesan darurat ke APA. Dia menceritakan semua kejadian hari itu, termasuk pertemuan dengan manusia Bumi, dan dia menyampaikan bahwa durasi ekspedisi Geminus akan diperpanjang hingga dua minggu. 

Setelah cukup pulih, Tee menganalisis jenis makanan yang bisa dikonsumsi manusia Bumi. Ternyata dengan lingkungan dan kondisi biologis yang hampir mirip, nutrisi standar yang dibutuhkan manusia Bumi serupa dengan manusia Venus. Dengan demikian, seraya menunggu balasan dari APA, mereka berkumpul untuk makan malam. Sayangnya setelah beberapa jam menunggu … tidak ada sinyal balasan sama sekali.

* * *

Tak peduli apa pun spesiesnya, planet asalnya, dan bentuk fisiknya, mereka berenam harus bekerja sama untuk bertahan hidup. Yano yang ditemani oleh sang istri dan anaknya bersedia hidup berdampingan dengan para manusia Venus untuk sementara waktu, sampai rumah mereka berhasil diperbaiki.

Tujuh hari telah berlalu sejak tim Geminus menapakkan kaki ke Bumi. Lambat laun persediaan makanan mereka kian menipis. Cadangan makanan yang tersisa tidak cukup untuk perjalanan pulang ke Venus selama kurang lebih tiga bulan. Dengan iklim yang tidak menentu, pastinya agak sulit untuk membudidayakan tanaman. Belum lagi umbi-umbian dan biji-bijian yang ditanam Nuna sudah hancur, rata dengan tanah akibat badai. Karenanya Nuna mengajak mereka mengumpulkan makanan dari hutan, seperti dedaunan dan buah-buahan kecil. Sementara itu Yano dan Taru bertanggung jawab dalam perburuan hewan-hewan kecil berkaki empat. Tak perlu risau soal air, mereka bisa mendapatkannya di sungai kecil atau air hujan. Ditambah lagi kapsul hunian memiliki sistem penyaring yang mampu memurnikan air. Demikianlah dengan bahan-bahan yang didapatkan, mereka bisa menambah persediaan makanan.

Tak lupa dengan tujuan ekspedisi, Tee juga mengamati semua spesies yang ia temukan. Tak sekadar mengumpulkan data, dia begitu mengagumi apa yang dilihatnya. Memang tersisa sedikit makhluk hidup, namun lihatlah betapa ekosistem di sini membentuk sebuah harmoni yang bergerak sepanjang waktu. Andai saja semua makhluk hidup berdampingan, maka semesta bisa dipahami. Alam hanya diintervensi oleh evolusi dan keserakahan manusia. Kerap kali penderitaan diciptakan oleh peradaban yang kian maju tanpa diiringi dengan keseimbangan alam.

Di sisi lain, bahasa masih menjadi penghalang yang berat. Sebab itulah Tee tetap menyempatkan diri untuk mengembangkan prototipe penerjemahnya. Tepat dua hari sebelum keberangkatan mereka, Tee mencobanya bersama Nii dan Yano. Setelah melalui beberapa kali kegagalan, prototipe tersebut akhirnya berhasil menerjemahkan kalimat dasar dari bahasa manusia Venus ke bahasa manusia Bumi, begitu pun sebaliknya. Betapa terpukau mereka menyaksikan penemuan yang sungguh revolusioner itu.

Beruntungnya selama dua minggu itu cuaca ekstrem tidak datang menghadang. Demikian rumah keluarga Yano mampu berdiri kembali tanpa banyak hambatan. Keberhasilan itu seolah menegaskan bahwa manusia masa lalu memang meninggalkan warisan yang pahit, tetapi manusia masa sekarang masih memiliki harapan.

Tibalah hari terakhir tim ekspedisi Geminus di Bumi. Beberapa menit sebelum memasuki roket, Yano, Taru, dan Nuna mendatangi para manusia Venus yang sudah lengkap dengan seragam EVA. Terdengar ketiga manusia Bumi itu berteriak dan melambaikan tangan. Melihat pemandangan itu, Komandan Yuu, Tee, dan Nii pun menghampiri mereka. Tee memberikan gestur seolah tak perlu lagi repot-repot menggerakkan tubuh. Dia lantas memberikan tabletnya kepada Yano. Kemudian Yano berbicara ke arah tablet itu. Hanya perlu menunggu beberapa saat, speaker-nya mengeluarkan suara dalam bahasa manusia Venus.

Jaga diri kalian. Terima kasih sudah membantu kami.

Giliran Komandan Yuu yang berbicara ke arah tablet, lalu terdengar suara dalam bahasa manusia Bumi.

Harusnya kami yang berterima kasih. Kami berjanji akan menyelamatkan kalian semua. Bertahanlah sampai waktu itu tiba! 

Kalimat-kalimat yang sederhana, namun sungguh bermakna. Tee memperhatikan sebetulnya ada beberapa kalimat dari Yano ataupun Komandan Yuu yang belum bisa diinterpretasikan oleh penerjemahnya. Namun yang terpenting dari sebuah bahasa adalah bisa dipahami satu sama lain.

Tak hanya sang komandan, Tee dan Nii pun bertekad untuk menyelamatkan keluarga Yano dan melakukan konservasi terhadap spesies yang masih tersisa di Bumi. Namun, sebelum itu mereka harus kembali ke Venus untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

* * *

Setahun berlalu.

Sesekali Venus masih bangga dengan rupanya. Sesekali pula ia melirik ke arah Bumi ketika mereka berada di jarak yang berdekatan. Dia selalu bersedih hati melihat nasib kembarannya itu. Namun apa daya ia ditunggangi para manusia yang haus akan kekuasaan dan selalu menutup-nutupi kebenaran. Tak pernah ia berhenti berharap agar bisa melihat Bumi kembali seperti dulu—sewaktu tanahnya ditutupi pepohonan rimbun dan lautnya biru bagai cermin yang memantulkan langit bersih.

Yano dan keluarganya masih harus merasakan penderitaan di Bumi, tiada berbeda dari sebelumnya. Beberapa kali mereka dilanda lagi oleh cuaca ekstrem yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yang bisa mereka perbuat hanyalah bertahan. Apa pun yang terjadi mereka selalu percaya bahwa Komandan Yuu, Tee, dan Nii akan kembali untuk menyelamatkan mereka semua. Namun … entah kapan keajaiban itu akan terjadi.

Tinggalkan komentar